Akal adalah yang dengannya Ilmu didapat, lebih jauh lagi dengannya pula Tuhan disembah.
Dengan demikian akal begitu penting bagi manusia. Bayangkan tanpa Akal tidak mampu manusia mengenal keberadaan Tuhan apalagi untuk menyembahnya. Akal pula yang menjadi sifat pembeda antara manusia dengan binatang.
Selanjutnya kerja Akal adalah berpikir. Apakah berpikir itu? Berpikir adalah bergeraknya pikiran dari hal yang diketahui menuju hal yang tidak diketahui kemudian menjadikannya menjadi diketahui.
Apa yang dihasilkan oleh kegiatan berpikir adalah pemahaman terhadap sesuatu atau orang biasa menyebutnya "pengetahuan" dan bila sudah menjadi tabiat atau prilaku peringkatnya naik menjadi Ilmu.
Ilmu sendiri sering disebut sebagai cahaya, kenapa? Karena hakekatnya memang cahaya. Apa itu cahaya? Cahaya adalah yang keberadaanya menampakkan yang selainnya.
Ilmu sangat dibutuhkan oleh manusia untuk membimbing jalannya menuju Allah. Karena tidak ada iman tanpa didahului ilmu. Adalah mustahil kita mengimani sesuatu yang tidak kita ketahui.
Ilmu bagi manusia bagaikan cahaya bagi mata.
Sabtu, 07 Mei 2011
Kamis, 22 April 2010
PRISTIWA PRIOK CONTOH KECINTAAN RAKYAT KEPADA TOKOH YANG BERSIH
Baru-baru ini kita dikejutkan dengan
’Kemiskinan diciptakan oleh Sistem’
Bangsa Indonesia tidak perlu pesimis dalam upaya mengentaskan kemiskinan di negeri ini. Maraknya korupsi di Indonesia juga tidak menjadi alasan bahwa upaya pemberantasan kemiskinan tidak bisa dilakukan.
“Bangladesh itu juga negara dengan tingkat korupsi yang sangat tinggi. Tetapi nyatanya dengan kerja keras pengentasan kemiskinan bisa dilakukan,” kata peraih Nobel perdamaian 2006 Muhaamd Yunus kepada wartawan usai memberi kuliah umum di Kampus UGM, Sabtu (11/8).
Menurut Yunus, salah satu hal yang penting dalam pengentasan kemiskinan adalah pemberdayaan langsung kepada masyarakat, khususnya masyarakat miskin. Dan kelompok wanita, menurut Yunus, merupakan kelompok yang bisa berpotensi untuk diberdayakan.
“Seperti yang kami lakukan di Grameen Bank dengan memberi kredit pada wanita yang ternyata cukup efektif dalam meningkatkan ekonomi masyarakat karena kaum wanita mempunyai kelebihan dalam manajemen keuangan,” ujarnya.
Apa yang dilakukan para sebagian besar kaum wanita di Bangladesh? setelah mendapatkan pinjaman, mereka langsung membeli gabah di pasar lalu menggiling gabah tersebut kemudian menjualnya dalam bentuk beras. “Dari usaha ini mereka mendapatkan jumlah penghasilan 6-7 kali lipat dari pada penghasilan mereka sebelumnya,”ungkap profesor ekonomi di Universitas Chittagong, Bangladesh.
Sementara itu di dalam kuliahnya, Yunus menekankan perlunya perbaikan pada sistem perbankan. Karena sistem yang ada selama ini tidak memberi peluang kepada kelompok miskin untuk mendapatkan akses modal. Padahal, modal menjadi hal utama untuk kaum miskin dalam upaya bangkit dari keterpurukan ekonomi mereka.
“Untuk itu perlu perubahan pada sistem bank yang selama ini. Sistem harus dibuat agar akses masyarakat miskin lebih luas lagi,” katanya.
Namun diakui Yunus untuk merubah sistem harus diawali dengan perubahan pola pikir masyarakat, khususnya kalangan perbankan yang tidak sekedar memikirkan keuntungan mereka. “Selama ini kalangan perbankan hanya berfikir bagaimana mencari uang tetapi tidak berfikir bagaimana agar uang itu berkembang sekaligus bermanfaat bagi kaum miskin,” ujarnya.
Menurut Yunus, kemiskinan bukan diciptakan oleh masyarakat miskin tapi diciptakan oleh sistem yang ada di masyarakat, “ Namun apabila kita semua tidak peduli terhadap kemiskinan, berarti kita juga sudah menjadi bagian dari sistem yang menciptakan kemiskinan itu sendiri,” imbuhnya.
“Kita jangan hanya sibuk mengerjakan hal-hal yang kecil saja tapi bagaimana kita bisa memikirkan dan mengerjakan hal-hal yang besar yang akan kita hadapi dalam beberapa tahun ke depan,” tambahnya.
Maka dari itu, kata Yunus, setiap universitas harus mampu membentuk mindset para mahasiswanya agar dengan mindset tersebut mereka mampu menghadapi masa depannya yang lebih baik ketika sudah lulus.
Sebelum memberikan kuliah umum, paginya Muhammad Yunus diterima langsung oleh Rektor UGM Prof Ir Sudjarwadi, M.Eng Ph.D dalam acara ramah tamah di ruang rektor, didampingi oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Prof Dr Retno Sunarminingsih M.Sc Apt.
Kuliah umum yang disampaikan Muhammad Yunus mengambil tema ‘Poverty Alleviation throught Empowering Microfinance’ berlangsung selama dua jam, dengan diakhiri sesi tanya jawab. (Humas UGM)
“Bangladesh itu juga negara dengan tingkat korupsi yang sangat tinggi. Tetapi nyatanya dengan kerja keras pengentasan kemiskinan bisa dilakukan,” kata peraih Nobel perdamaian 2006 Muhaamd Yunus kepada wartawan usai memberi kuliah umum di Kampus UGM, Sabtu (11/8).
Menurut Yunus, salah satu hal yang penting dalam pengentasan kemiskinan adalah pemberdayaan langsung kepada masyarakat, khususnya masyarakat miskin. Dan kelompok wanita, menurut Yunus, merupakan kelompok yang bisa berpotensi untuk diberdayakan.
“Seperti yang kami lakukan di Grameen Bank dengan memberi kredit pada wanita yang ternyata cukup efektif dalam meningkatkan ekonomi masyarakat karena kaum wanita mempunyai kelebihan dalam manajemen keuangan,” ujarnya.
Apa yang dilakukan para sebagian besar kaum wanita di Bangladesh? setelah mendapatkan pinjaman, mereka langsung membeli gabah di pasar lalu menggiling gabah tersebut kemudian menjualnya dalam bentuk beras. “Dari usaha ini mereka mendapatkan jumlah penghasilan 6-7 kali lipat dari pada penghasilan mereka sebelumnya,”ungkap profesor ekonomi di Universitas Chittagong, Bangladesh.
Sementara itu di dalam kuliahnya, Yunus menekankan perlunya perbaikan pada sistem perbankan. Karena sistem yang ada selama ini tidak memberi peluang kepada kelompok miskin untuk mendapatkan akses modal. Padahal, modal menjadi hal utama untuk kaum miskin dalam upaya bangkit dari keterpurukan ekonomi mereka.
“Untuk itu perlu perubahan pada sistem bank yang selama ini. Sistem harus dibuat agar akses masyarakat miskin lebih luas lagi,” katanya.
Namun diakui Yunus untuk merubah sistem harus diawali dengan perubahan pola pikir masyarakat, khususnya kalangan perbankan yang tidak sekedar memikirkan keuntungan mereka. “Selama ini kalangan perbankan hanya berfikir bagaimana mencari uang tetapi tidak berfikir bagaimana agar uang itu berkembang sekaligus bermanfaat bagi kaum miskin,” ujarnya.
Menurut Yunus, kemiskinan bukan diciptakan oleh masyarakat miskin tapi diciptakan oleh sistem yang ada di masyarakat, “ Namun apabila kita semua tidak peduli terhadap kemiskinan, berarti kita juga sudah menjadi bagian dari sistem yang menciptakan kemiskinan itu sendiri,” imbuhnya.
“Kita jangan hanya sibuk mengerjakan hal-hal yang kecil saja tapi bagaimana kita bisa memikirkan dan mengerjakan hal-hal yang besar yang akan kita hadapi dalam beberapa tahun ke depan,” tambahnya.
Maka dari itu, kata Yunus, setiap universitas harus mampu membentuk mindset para mahasiswanya agar dengan mindset tersebut mereka mampu menghadapi masa depannya yang lebih baik ketika sudah lulus.
Sebelum memberikan kuliah umum, paginya Muhammad Yunus diterima langsung oleh Rektor UGM Prof Ir Sudjarwadi, M.Eng Ph.D dalam acara ramah tamah di ruang rektor, didampingi oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Prof Dr Retno Sunarminingsih M.Sc Apt.
Kuliah umum yang disampaikan Muhammad Yunus mengambil tema ‘Poverty Alleviation throught Empowering Microfinance’ berlangsung selama dua jam, dengan diakhiri sesi tanya jawab. (Humas UGM)
Rabu, 23 September 2009
MANUSIA INI
Manusia ini sejak lahir telah dianugerahi dengan akal dan panca indera yang baik. Lewat sarana ini dia dapat bertahan hidup dan mengusahakan apa yang dia butuhkan. Dasar dari upaya manusia ini dalam berusaha adalah pengalaman dan nalarnya terhadap sebab bagaimana sesuatu dapat diraih atau terwujud. Namun dari pengalamannya pula manusia ini mengetahui bahwa dia tidak selalu bisa mendapatkan apa yang dia inginkan (you can't allways get want you want), betapapun kuatnya keinginan tersebut dan berbagai upaya telah dilakukan.
Bersandar dari realita tersebut manusia ini berfikir tentang keterbatasan manusia sebagai bagian dari alam ini. Ketika dia berfikir bahwa dia (manusia) terbatas, kemudian ada dorongan dalam dirinya untuk mencari kekuatan yang lebih besar kekuasaannya daripada dirinya. Namun singkat cerita satu-persatu objek diteliti dan direnungkan dan ternyata semuanya memiliki keterbatasan bahkan lebih parah lagi objek-objek tersebut diragukannya memiliki kesadaran akan keberadaannya seperti sadarnya manusia ini akan keberadaan dirinya.
Selanjutnya manusia ini mengikuti fikirannya menerawang dengan banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin dia jawab secara sempurna. Diantaranya; apakah jenis dirinya adalah satu-satunya jenis objek yang dapat sadar akan keberadaan dirinya? Bila semua ini berawal dan apakah akan berakhir? Siapa penyebab semua ini, karena dia tidak merasa pernah memulai mengusahakan keberadaanya sendiri? Apakah semua ini ada yang mengatur, karena dia berfikir dirinya saja harus berfikir dan mengatur dirinya untuk bertahan hidup, bagaimana alam yang besar ini bisa bertahan tanpa pengaturan sama sekali? Singkat cerita masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang dia rasa harus dia jawab untuk membebaskan dirinya dari kebingungan ini.
Kemudian dia memulai bertanya pada satu-satu dari kelompoknya, tetapi mereka malah mengandalkannya untuk mencari jawabannya karena kepala mereka juga sudah sakit memikirkannya, ada yang hanya nyengir melihatnya entah apa maksudnya? Walhasil bilapun ada jawaban tak pernah memuaskannya.
Akhirnya dia memutuskan untuk mencari jawabannya sendiri dan mulai berkelana secara fisik dan fikiran, sambil terus berharap ada sesuatu yang memiliki jawaban atas semua pertanyaannya apapun itu bagaimanapun caranya (BERSAMBUNG)
Bersandar dari realita tersebut manusia ini berfikir tentang keterbatasan manusia sebagai bagian dari alam ini. Ketika dia berfikir bahwa dia (manusia) terbatas, kemudian ada dorongan dalam dirinya untuk mencari kekuatan yang lebih besar kekuasaannya daripada dirinya. Namun singkat cerita satu-persatu objek diteliti dan direnungkan dan ternyata semuanya memiliki keterbatasan bahkan lebih parah lagi objek-objek tersebut diragukannya memiliki kesadaran akan keberadaannya seperti sadarnya manusia ini akan keberadaan dirinya.
Selanjutnya manusia ini mengikuti fikirannya menerawang dengan banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin dia jawab secara sempurna. Diantaranya; apakah jenis dirinya adalah satu-satunya jenis objek yang dapat sadar akan keberadaan dirinya? Bila semua ini berawal dan apakah akan berakhir? Siapa penyebab semua ini, karena dia tidak merasa pernah memulai mengusahakan keberadaanya sendiri? Apakah semua ini ada yang mengatur, karena dia berfikir dirinya saja harus berfikir dan mengatur dirinya untuk bertahan hidup, bagaimana alam yang besar ini bisa bertahan tanpa pengaturan sama sekali? Singkat cerita masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang dia rasa harus dia jawab untuk membebaskan dirinya dari kebingungan ini.
Kemudian dia memulai bertanya pada satu-satu dari kelompoknya, tetapi mereka malah mengandalkannya untuk mencari jawabannya karena kepala mereka juga sudah sakit memikirkannya, ada yang hanya nyengir melihatnya entah apa maksudnya? Walhasil bilapun ada jawaban tak pernah memuaskannya.
Akhirnya dia memutuskan untuk mencari jawabannya sendiri dan mulai berkelana secara fisik dan fikiran, sambil terus berharap ada sesuatu yang memiliki jawaban atas semua pertanyaannya apapun itu bagaimanapun caranya (BERSAMBUNG)
Sabtu, 05 September 2009
DEMOKRASI EKONOMI
Bagaiamana menciptakan keadilan dibidang ekonomi, tetapi pertumbuhannya juga tetap terjaga dengan percepatan yang baik? Persoalan ini telah begitu klasik, namun masih menjadi perbebatan yang menarik di kalangan Ahli Ekonomi Makro.
Bagi kami Utopis Sejati, tidak ada jalan lain dalam menjawab persoalan ini, selain memberdayakan ekonomi kerakyatan. Perekonomian yang dibangun oleh basis-basis ekonomi usaha rakyat yang melibatkan lebih banyak orang dan didasarkan atas competitive advantage (keunggulan daya saing) dari suatu wilayah dan komunitas tertentu. Ekonomi yang dibangun atas dasar prinsip-prinsip universal seperti Kemanusiaan, Kekeluargaan, Keadilan, Non Diskriminasi, Kemandirian, Profesionalisme, Kejujuran dan semua nilai-nilai universal lainya.
Koperasi adalah salah satu wadah yang sejak lama direkomendasikan oleh banyak ahli untuk mendukung kegiatan dari usaha-usaha kerakyatan. Mengapa? Karena koperasi merupakan institusi perekonomian yang juga peduli terhadap visi-visi sosial disamping visi-visi ekonomi (dual identity). Suatu wadah perekonomian yang tetap profit oriented dan dikelola secara profesional, namun tetap menjunjung nilai bahwa di atas semua orientasi sesungguhnya orientasi utama adalah penghargaan terhadap kemanusian.
Bagaimanapun sebagai sebuah wadah, lembaga koperasi bukanlah satu-satunya bentuk wadah pergerakan ekonomi kerakyatan yang dihalalkan, bisa saja dalam bentuk-bentuk lain selama dalam melaksanakan kegiatannya tidak melupakan visi sosial, disamping motif-motif ekonomi tentunya.
Demikianlah sikap Utopis Sejati secara umum tentang bagaimana seharusnya kebijakkan makro perekonomian dunia ini dibangun, yaitu harus diarahkan kepada pendemokrasian ekonomi. Rakyat jangan hanya dieksploitasi, hanya sebagai penonton atau obyek, tetapi rakyat sebagai pemilik-pemilik sah dari semua negara yang ada di muka bumi ini harus aktif dalam menggerakkan roda perekonomian di negara mereka masing-masing. Pertumbuhan penting tetapi pemerataan juga sama pentingnya.
Himbauan kami kepada semua Rakyat di seluruh dunia untuk menuntut hak-hak ekonomi mereka, bersatulah sebab tanpa persatuan kalian bukalah siapa ataupun apa "you are nothing" tetapi bila kalian bersatu maka kalian adalah sesuatu yang memiliki kekuatan yang menakutkan siapapun. Kalian datang seperti sekelompok ahli waris yang meminta hak dari peninggalan orang tuanya. Berjuanglah.
Bagi kami Utopis Sejati, tidak ada jalan lain dalam menjawab persoalan ini, selain memberdayakan ekonomi kerakyatan. Perekonomian yang dibangun oleh basis-basis ekonomi usaha rakyat yang melibatkan lebih banyak orang dan didasarkan atas competitive advantage (keunggulan daya saing) dari suatu wilayah dan komunitas tertentu. Ekonomi yang dibangun atas dasar prinsip-prinsip universal seperti Kemanusiaan, Kekeluargaan, Keadilan, Non Diskriminasi, Kemandirian, Profesionalisme, Kejujuran dan semua nilai-nilai universal lainya.
Koperasi adalah salah satu wadah yang sejak lama direkomendasikan oleh banyak ahli untuk mendukung kegiatan dari usaha-usaha kerakyatan. Mengapa? Karena koperasi merupakan institusi perekonomian yang juga peduli terhadap visi-visi sosial disamping visi-visi ekonomi (dual identity). Suatu wadah perekonomian yang tetap profit oriented dan dikelola secara profesional, namun tetap menjunjung nilai bahwa di atas semua orientasi sesungguhnya orientasi utama adalah penghargaan terhadap kemanusian.
Bagaimanapun sebagai sebuah wadah, lembaga koperasi bukanlah satu-satunya bentuk wadah pergerakan ekonomi kerakyatan yang dihalalkan, bisa saja dalam bentuk-bentuk lain selama dalam melaksanakan kegiatannya tidak melupakan visi sosial, disamping motif-motif ekonomi tentunya.
Demikianlah sikap Utopis Sejati secara umum tentang bagaimana seharusnya kebijakkan makro perekonomian dunia ini dibangun, yaitu harus diarahkan kepada pendemokrasian ekonomi. Rakyat jangan hanya dieksploitasi, hanya sebagai penonton atau obyek, tetapi rakyat sebagai pemilik-pemilik sah dari semua negara yang ada di muka bumi ini harus aktif dalam menggerakkan roda perekonomian di negara mereka masing-masing. Pertumbuhan penting tetapi pemerataan juga sama pentingnya.
Himbauan kami kepada semua Rakyat di seluruh dunia untuk menuntut hak-hak ekonomi mereka, bersatulah sebab tanpa persatuan kalian bukalah siapa ataupun apa "you are nothing" tetapi bila kalian bersatu maka kalian adalah sesuatu yang memiliki kekuatan yang menakutkan siapapun. Kalian datang seperti sekelompok ahli waris yang meminta hak dari peninggalan orang tuanya. Berjuanglah.
Jumat, 04 September 2009
PERENUNGAN SEORANG UTOPIS

Apakah kebenaran memiliki ciri? Bila ya apakah itu? Apakah kesesatan juga memilikinya? Apakah kesesatannya masih bisa diluruskan? Apakah kesepakatan itu dimungkinkan? Bila tidak, maka perang besar tinggal menunggu waktu saja, menyusul perang-perang kecil yang telah nyata...
Kami mengharapkan keadilan di bumi ini! Kapan hal ini akan terwujud ? Keadilan yang ditegakkan oleh Seorang Pemimpin yang tangguh dan berhati suci.
Saat ini yang kusaksikan adalah sebaliknya. Penindasan manusia atas manusia, kebohongan yang dipaksakan, bila perlu dengan ancaman dan senjata. Tidak rasio atau logika, siapa yang kuat dia yang berkuasa. Yang kaya bisa mengatur segalanya, bukan kasih sayang atau sayang, tetapi pemerasan yang dilakukan sang durjana dan kelompoknya.
Siapa yang menjadikan dunia ini lahan subur kedzholiman? Siapa yang membentuk sistim terkutuk ini? siapa di balik semua kedzholiman sistimatis ini?
Tetapi hati kami tak akan pernah takut dan berputus asa. Saat ini kami berteriak "Hai orang-orang tertindas di dunia bersatulah, rebutlah hak-hak kalian dari para penindas itu!"
Sesungguhnya merekalah yang akan menggigil ketakutan, karena saat ini kalian telah bersatu dan mulut kalian tak lagi bisa dibungkam.
Langganan:
Postingan (Atom)